Mineral sudah dikenal sejak zaman pra-sejarah. Lama sebelum kesusastraan berkembang manusia telah menganal zat warna alam seperti hematit (merah) dan mangan oksida (hitam) yang digunakan untuk lukisan di dalam gua. Manusia zaman Batu telah kenal akan kekerasan dan keuletan aktinolite berserabut (nepherite jade) dan menggunakannya sebagai beliung. Distribusi alat nefrit ini membuktikan bahwa material ini pernah digunakan dalam kehidupan, karena alat tersebut dijumpai jauh dari tempat bahan mentahnya. Penambangan dan peleburan mineral logam untuk mendapatkan besi, tembaga, perunggu, timah dan perak diperkirakan dimulai sejak 4.000 tahu ang lalu atau lebih, meskipun demikian, kita tidak mempunyai bukti tertulis tentang hal ini. Salah satu buku yang pertama kali berisi tentang mineral ialah On Stones ditulis oleh filosof Yunani, Theophratus (372-287 SM). Pliny, pada abad ke satu Masehi, mencatat banyak sekali pengetahuan alam yang sudah dikenal oleh orang Romawi, dan ia menerangkan tentang beberapa macam mineral yang ditambang untuk dipergunakan sebagai : batu perhiasan, zat warna dan bijih logam. Selama zaman milenium (masa 1.000 tahun zaman Masehi), sedikit yang kita ketahui mengenai perkembangan ilmu ini, tetapi pada zaman Renaissance di Eropa timbul perhatian terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengolahan mineral secara klasik pernah ditulis oleh ahli tambang Jerman, Agricola, yang menertibkan De Re Metallica (1556) dan De Nature Fossilium (15 46). Dalam buku tersebut ia mencatat tentang keadaan geologi, mineralogi, pertambangan dan metalurgi pada saat itu. Tulisan ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Herbert Hoover, Presiden AS, pada tahun 1912 dan tersimpan di banyak perpustakaan. Setelah Agricola, perkembangan selanjutnya mengenai mineralogi dilanjutkan oleh seorang Denmark, Niels Stense, (lebih dikenal dengan nama latinnya, nama yang umum dipakai seorang ilmuwan pada zaman itu Nicolaus Steno). Steno dalam tahun 1669 membuktikan bahwa sudut dalam (interfacial angles) kristal kuarsa adalah tetap dan tidak tergantung kepada bentuk dan ukuran kristalnya, sejak itu ia tertarik akan bentuk kristal dan telah merintis perkembangan ilmu kristalografi. Selama abad ke 18 tercatat bahwa kemajuan mineralogi lambat. Mineral baru ditemukan dan dideskripsi, berbagai usaha dicoba untuk membuat klasifikasi yang rasional. Yang paling aktif dalam usaha ini ialah negara Swedia dan Jerman, A.G. Wermer (1750-1817), seorang mahaguru pada Mining Academy di Freberg, telah menarik perhatian banyak mahasiswa dari seluruh bagianEropa. Pada saat ini mineral erat hubungannya dengan ilmu kimia, karena para ahli kimia mempergunakan mineral sebagai bahan baku penelitiannya. Akibatnya banyak penemuan unsur baru. Arti kristalografi dalam studi tentang mineral dikembangkan secara luas oleh ahli Perancis, Hauy (1743-1882). Dalam tahun – tahun pertama abad ke 19 terlihat kemajuaan yang pesat dari mineralogi dengan adanya teori atom dan pernyataan bahwa mineral adalah senyawa kimia dengan komposisi yang lebih teliti dan klasifikasi bentuk serta sistem yang memenuhi syarat. Ahli kimia Swedia, Berzelius (1779-1848), dan murid-muridnya terutama Mitserlich (1794 – 1863), mempelajari kimia kristal dan kemudian mengumumkan klasifikasi mineral secara kimia. Selama abad 19 banyak ditemukan dan dideskripsi mineral baru, tidak jarang sebagai hasil dari pembukaan distrik pertambangan baru yang semula merupakan daerah yang belum diselidiki. Sampai sekarang sudah diketahui ada lebih dari 2300 macam mineral (tahun 1989). Jumlah ini bertambah terus, setiap tahun dapat diketahui ada 25 macam mineral baru. Perkembangan mikroskop polarisasi dan penggunaannya untuk menentukan sifat mineral pada kira-kira tahun 1870 menghasilkan alat baru yang sangat berguna bagi ahli mineralogi. Perkembangan terbesar pada abad sekarang telah didemonstrasikan oleh Von Laue pada tahun 1912, yaitu bahwa kristal membiaskan sinar X, akibatnya posisi sebenarnya dari atom di dalam kristal dapat diinterpretasikan dari pola hasil pembiasan tersebut.
SEJARAH MINERALOGI
BalasHapusMineral sudah dikenal sejak zaman pra-sejarah. Lama sebelum kesusastraan berkembang manusia telah menganal zat warna alam seperti hematit (merah) dan mangan oksida (hitam) yang digunakan untuk lukisan di dalam gua.
Manusia zaman Batu telah kenal akan kekerasan dan keuletan aktinolite berserabut (nepherite jade) dan menggunakannya sebagai beliung. Distribusi alat nefrit ini membuktikan bahwa material ini pernah digunakan dalam kehidupan, karena alat tersebut dijumpai jauh dari tempat bahan mentahnya. Penambangan dan peleburan mineral logam untuk mendapatkan besi, tembaga, perunggu, timah dan perak diperkirakan dimulai sejak 4.000 tahu ang lalu atau lebih, meskipun demikian, kita tidak mempunyai bukti tertulis tentang hal ini. Salah satu buku yang pertama kali berisi tentang mineral ialah On Stones ditulis oleh filosof Yunani, Theophratus (372-287 SM). Pliny, pada abad ke satu Masehi, mencatat banyak sekali pengetahuan alam yang sudah dikenal oleh orang Romawi, dan ia menerangkan tentang beberapa macam mineral yang ditambang untuk dipergunakan sebagai : batu perhiasan, zat warna dan bijih logam. Selama zaman milenium (masa 1.000 tahun zaman Masehi), sedikit yang kita ketahui mengenai perkembangan ilmu ini, tetapi pada zaman Renaissance di Eropa timbul perhatian terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pengolahan mineral secara klasik pernah ditulis oleh ahli tambang Jerman, Agricola, yang menertibkan De Re Metallica (1556) dan De Nature Fossilium (15 46). Dalam buku tersebut ia mencatat tentang keadaan geologi, mineralogi, pertambangan dan metalurgi pada saat itu. Tulisan ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Herbert Hoover, Presiden AS, pada tahun 1912 dan tersimpan di banyak perpustakaan. Setelah Agricola, perkembangan selanjutnya mengenai mineralogi dilanjutkan oleh seorang Denmark, Niels Stense, (lebih dikenal dengan nama latinnya, nama yang umum dipakai seorang ilmuwan pada zaman itu Nicolaus Steno). Steno dalam tahun 1669 membuktikan bahwa sudut dalam (interfacial angles) kristal kuarsa adalah tetap dan tidak tergantung kepada bentuk dan ukuran kristalnya, sejak itu ia tertarik akan bentuk kristal dan telah merintis perkembangan ilmu kristalografi.
Selama abad ke 18 tercatat bahwa kemajuan mineralogi lambat. Mineral baru ditemukan dan dideskripsi, berbagai usaha dicoba untuk membuat klasifikasi yang rasional. Yang paling aktif dalam usaha ini ialah negara Swedia dan Jerman, A.G. Wermer (1750-1817), seorang mahaguru pada Mining Academy di Freberg, telah menarik perhatian banyak mahasiswa dari seluruh bagianEropa. Pada saat ini mineral erat hubungannya dengan ilmu kimia, karena para ahli kimia mempergunakan mineral sebagai bahan baku penelitiannya. Akibatnya banyak penemuan unsur baru. Arti kristalografi dalam studi tentang mineral dikembangkan secara luas oleh ahli Perancis, Hauy (1743-1882). Dalam tahun – tahun pertama abad ke 19 terlihat kemajuaan yang pesat dari mineralogi dengan adanya teori atom dan pernyataan bahwa mineral adalah senyawa kimia dengan komposisi yang lebih teliti dan klasifikasi bentuk serta sistem yang memenuhi syarat.
Ahli kimia Swedia, Berzelius (1779-1848), dan murid-muridnya terutama Mitserlich (1794 – 1863), mempelajari kimia kristal dan kemudian mengumumkan klasifikasi mineral secara kimia. Selama abad 19 banyak ditemukan dan dideskripsi mineral baru, tidak jarang sebagai hasil dari pembukaan distrik pertambangan baru yang semula merupakan daerah yang belum diselidiki. Sampai sekarang sudah diketahui ada lebih dari 2300 macam mineral (tahun 1989). Jumlah ini bertambah terus, setiap tahun dapat diketahui ada 25 macam mineral baru.
Perkembangan mikroskop polarisasi dan penggunaannya untuk menentukan sifat mineral pada kira-kira tahun 1870 menghasilkan alat baru yang sangat berguna bagi ahli mineralogi. Perkembangan terbesar pada abad sekarang telah didemonstrasikan oleh Von Laue pada tahun 1912, yaitu bahwa kristal membiaskan sinar X, akibatnya posisi sebenarnya dari atom di dalam kristal dapat diinterpretasikan dari pola hasil pembiasan tersebut.